PARIS — Peta perpolitikan sepak bola global kembali berguncang setelah Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) secara resmi mengumumkan penarikan dukungan terhadap Presiden FIFA, Gianni Infantino. Keputusan ini menjadi pukulan telak bagi Infantino yang tengah berupaya mempertahankan kursi nomor satu di badan pengatur sepak bola dunia tersebut untuk periode berikutnya.
Langkah berani yang diambil oleh otoritas sepak bola Prancis pada hari Kamis ini mempertegas meluasnya mosi tidak percaya dari negara-negara elite Eropa terhadap kepemimpinan Infantino. Posisi pria berpaspor Swiss-Italia itu kian terpojok di tengah gelombang kritik keras yang menuntut reformasi tata kelola serta transparansi di tubuh FIFA.
Retaknya Kepercayaan Otoritas Sepak Bola Eropa
Keputusan FFF tidak berdiri sendiri. Prancis kini resmi bergabung dalam barisan kekuatan utama sepak bola Benua Biru yang menolak kepemimpinan Infantino. Sebelumnya, Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) dan Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) telah lebih dulu menarik restu politik mereka dari mantan Sekretaris Jenderal UEFA tersebut.
"Dukungan terhadap kepemimpinan FIFA harus didasarkan pada visi bersama yang menghormati tradisi kompetisi, transparansi finansial, serta kesejahteraan ekosistem sepak bola global secara menyeluruh," demikian garis besar sikap federasi-federasi Eropa yang kian kritis terhadap kebijakan sepihak FIFA.
Kekecewaan kolektif ini mencerminkan jurang pemisah yang semakin lebar antara FIFA dan konfederasi sepak bola Eropa (UEFA). Kebijakan-kebijakan yang dirancang Infantino dinilai kerap mengabaikan kepentingan liga domestik, pemain, dan kalender pertandingan internasional yang sudah sangat padat.
Pangkal Kontroversi: Privatisasi Aset Piala Dunia
Sumber utama perpecahan ini bermula dari manuver kontroversial Infantino yang sempat mengusulkan penjualan sebagian saham dan hak komersial kompetisi bergengsi, termasuk Piala Dunia dan rencana pembaruan Piala Dunia Antarklub, kepada konsorsium investor swasta internasional. Gagasan bernilai miliaran dolar tersebut menuai kecaman luas karena dianggap sebagai bentuk komersialisasi berlebihan yang mengancam kedaulatan sepak bola.
Meskipun rencana kontroversial tersebut akhirnya dibatalkan akibat penolakan keras dari berbagai pihak, luka politik di antara para pemangku kepentingan tidak serta-merta sembuh. Sejumlah poin krusial yang mendasari kekecewaan federasi antara lain:
- Ketiadaan Konsultasi Transparan: Pengambilan keputusan strategis dinilai berlangsung secara tertutup tanpa melibatkan federasi anggota secara memadai.
- Kekhawatiran Finansial Jangka Panjang: Menjual aset komersial kepada pihak ketiga dipandang berisiko merugikan pendapatan masa depan sepak bola dunia.
- Beban Kalender Pemain: Ambisi memperbanyak turnamen baru dinilai mengancam fisik dan mental para pemain profesional.
Masa Depan Kepemimpinan FIFA di Ujung Tanduk
Dengan hilangnya sokongan dari Prancis, Inggris, dan Italia, legitimasi Gianni Infantino berada pada titik terendah sejak ia pertama kali terpilih menggantikan Sepp Blatter pada 2016. Infantino kini harus berjuang keras mengamankan dukungan dari konfederasi di luar Eropa, seperti Afrika, Asia, dan Amerika Latin, untuk menjaga peluangnya tetap berkuasa.
Kendati demikian, oposisi terkoordinasi dari raksasa sepak bola Eropa memberi sinyal kuat bahwa pemilihan presiden FIFA mendatang tidak lagi akan menjadi ajang aklamasi mudah bagi Infantino, melainkan pertarungan sengit demi arah masa depan sepak bola global.
Comments (0)