Mantan Pramugari BA Gugat Usai Kena PHK Pandemi

LONDON — Seorang mantan anggota kru kabin British Airways (BA) yang telah mengabdi selama 30 tahun kini terlibat pertarungan hukum melawan perusahaan setel

Mantan Pramugari BA Gugat Usai Kena PHK Pandemi

LONDON — Seorang mantan anggota kru kabin British Airways (BA) yang telah mengabdi selama 30 tahun kini terlibat pertarungan hukum melawan perusahaan setelah kehilangan pekerjaannya pada masa pandemi COVID-19. Tess De Mello menjadi salah satu dari ribuan karyawan yang terdepak dalam gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang pernah disebut para anggota parlemen Inggris sebagai "aib nasional".

Dalam wawancaranya dengan media Inggris, De Mello mengungkapkan bahwa pekerjaan sebagai pramugari bukan sekadar sumber penghasilan, melainkan telah menjadi bagian dari identitas dirinya. "Saya merasa malu," ujarnya menggambarkan dampak psikologis yang ia alami setelah kehilangan pekerjaan yang telah ia tekuni selama tiga dekade.

Ia menuturkan bahwa selama bertahun-tahun ia selalu berusaha memberikan pelayanan terbaik, bahkan kerap melampaui tugas pokoknya demi membuat penumpang merasa lebih nyaman. "Saya bangga. Saya benar-benar bangga pada diri saya, pada peran saya, pada segalanya, karena inilah yang selalu saya impikan," katanya.

Kronologi PHK Massal British Airways

Kasus yang menimpa De Mello adalah bagian dari kebijakan efisiensi besar-besaran yang diambil British Airways ketika industri penerbangan global runtuh akibat pembatasan perjalanan selama pandemi. Berikut urutan peristiwa yang melatarbelakangi sengketa ini:

  1. Maret 2020 — Pandemi COVID-19 melanda Eropa dan maskapai-maskapai besar menghentikan sebagian besar penerbangan internasional.
  2. Pertengahan 2020 — British Airways mengumumkan rencana pemangkasan hingga 12.000 pekerjaan dari total sekitar 42.000 karyawan.
  3. Proses PHK — Ribuan kru kabin, termasuk De Mello, kehilangan pekerjaan dengan syarat pemutusan yang dianggap tidak adil oleh sebagian pekerja.
  4. Setelahnya — Sejumlah mantan karyawan menempuh jalur hukum, dan parlemen Inggris menyebut perlakuan terhadap pekerja sebagai "national disgrace".
  5. Kini — De Mello masih berjuang di jalur hukum untuk memperoleh keadilan atas kehilangan pekerjaan 30 tahunnya.

Dampak Psikologis dan Ekonomi bagi Pekerja Senior

Kasus De Mello menyoroti persoalan lebih luas tentang bagaimana perusahaan besar menangani karyawan senior ketika krisis melanda. Bagi pekerja yang telah mengabdi puluhan tahun, kehilangan pekerjaan bukan hanya soal pendapatan, tetapi juga kehilangan identitas sosial dan harga diri.

"Ini bukan sekadar kehilangan pekerjaan. Ini kehilangan bagian dari diri saya yang sudah saya bangun selama tiga dekade," kata De Mello.
AspekDampak pada Pekerja Senior
EkonomiKehilangan penghasilan tetap dan tunjangan jangka panjang
PsikologisRasa malu, kehilangan identitas, dan tekanan mental
KarierSulit kembali bekerja di industri yang sama pada usia senior
HukumHarus menempuh jalur litigasi untuk memperoleh hak

Para pengamat ketenagakerjaan menilai bahwa kasus ini mencerminkan pola perusahaan penerbangan global yang cenderung mengorbankan pekerja senior demi menjaga neraca keuangan saat krisis. "Perusahaan besar sering kali memilih jalan pintas dengan memangkas karyawan paling berpengalaman, padahal mereka adalah aset paling berharga," ujar seorang analis ketenagakerjaan di London.

Hingga kini, proses hukum yang dijalani De Mello masih berjalan. Ia berharap perjuangannya tidak hanya membawa keadilan bagi dirinya sendiri, tetapi juga menjadi preseden bagi ribuan mantan karyawan BA lainnya yang senasib. Perjuangan itu menjadi pengingat bahwa di balik angka-angka PHK dalam laporan keuangan perusahaan, terdapat kisah manusia yang kehilangan sebagian besar hidupnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
hendra-wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Comments (0)

User