Rencana Dewan Kota Birmingham menjadikan kota terbesar kedua Inggris itu sebagai "kota 20 mph" memicu kegaduhan politik baru di tengah perang budaya jalan raya. Batas kecepatan 20 mph atau sekitar 32 km per jam akan diberlakukan di hampir seluruh jalan kota, kecuali beberapa jalur arteri utama. Komentator sayap kanan mengecam langkah itu sebagai kebijakan anti-pengendara, tetapi pengamat transportasi justru menilai keputusan ini sebagai titik balik kebijakan transportasi yang pantas ditiru kota-kota lain di Inggris.
"Jika bisa terjadi di Birmingham, bisa terjadi di mana saja," tulis komentator transportasi Christian Wolmar di The Guardian, Jumat (28/8), menanggapi rencana tersebut. Menurutnya, langkah Birmingham menandai pergantian arah kebijakan yang bisa dan harus mendapat peniru, terlebih karena kota ini adalah simbol terbesar dominasi mobil dalam sejarah perkotaan Inggris.
Akar Masalah: Kota yang Dibangun untuk Mobil
Untuk memahami kegaduhan itu, kata Wolmar, publik perlu menengok sejarah Birmingham. Pada dekade 1960-an, Birmingham adalah markas besar industri otomotif Inggris. Jantung kota dibangun layaknya sirkuit balap: jaringan jalan bertingkat dan simpang susun yang memaksa pejalan kaki turun ke lorong bawah tanah, sekaligus memastikan tak seorang pun cukup gila untuk bersepeda di sana.
Jalan-jalan Birmingham, tulisnya, dirancang bukan sekadar sarana warga menuju toko atau kantor, melainkan lebih mirip lintasan uji bagi mobil-mobil model baru. Penekanan pada jalan raya di atas segalanya adalah strategi sadar sebuah kota yang melihat masa depannya terikat erat dengan para produsen mobil. Warisan perancangan itulah yang kini hendak dibongkar.
Kronologi: Dari Sirkuit Balap ke Kota 20 Mph
Transformasi Birmingham tidak terjadi dalam semalam. Berikut rangkaian perjalanan panjangnya:
- 1960-an: Birmingham menjadi pusat industri mobil Inggris; jantung kota dibangun dengan jaringan jalan bergaya sirkuit balap, jalur layang, dan simpang susun berlapis.
- Era puncak otomotif: Perancangan jalan memprioritaskan kendaraan bermotor; pejalan kaki didorong ke lorong bawah tanah dan bersepeda nyaris mustahil dilakukan.
- Dekade-dekade berikutnya: Kesadaran baru tumbuh bahwa kota yang didominasi mobil merugikan pejalan kaki, pesepeda, keselamatan, dan kualitas udara kota.
- 2026: Dewan Kota Birmingham mengumumkan rencana memberlakukan batas kecepatan 20 mph di seluruh jalan, kecuali beberapa jalan utama.
- Agustus 2026: Rencana itu memicu lolongan protes dari kalangan kanan dan komunitas pengendara, sekaligus dipuji pengamat transportasi sebagai titik balik kebijakan nasional.
Protes Kanan dan "Perang Budaya" di Jalan Raya
Kebijakan serupa sebelumnya sempat diuji di sejumlah wilayah Inggris, dan hampir selalu disambut protes keras. Pengendara serta politisi sayap kanan menyebut batas kecepatan rendah sebagai bentuk "perang terhadap pengendara" — isu yang kerap dipolitisasi dalam perdebatan budaya. Birmingham kini berada di garis depan perang budaya itu.
Namun Wolmar menolak cara pandang tersebut. Menurutnya, batas kecepatan 20 mph adalah kebijakan yang "akan menjadi hal baik" bagi keselamatan pejalan kaki, pesepeda, dan penghuni kota secara luas. Ia yakin kota-kota lain akan mengikuti jejak Birmingham begitu manfaat nyatanya mulai terlihat di lapangan.
Titik Balik dan Sinyal bagi Kota Lain
Bagi pendukung kebijakan ini, keputusan Birmingham penting karena simbolismenya: kota yang paling lama identik dengan mobil justru memimpin perampingan kecepatan. Batas 20 mph dipandang mampu menekan korban kecelakaan fatal, mendorong moda jalan kaki dan sepeda, serta mengubah wajah pusat kota yang selama puluhan tahun dikuasai aspal.
"Ingatlah bahwa pada 1960-an Birmingham adalah kota yang punya jaringan jalan bergaya sirkuit balap di jantungnya," tulis Wolmar, menggarisbawahi betapa jauh kota ini telah berubah arah. Jika kota bekas "ibu kota mobil" Inggris sanggup berbalik, argumennya, tidak ada alasan bagi kota lain untuk mengaku tidak mampu.
Pemerintah kota belum merinci jadwal pemberlakuan penuh, tetapi sinyalnya jelas: era jalan kota sebagai lintasan uji mobil dinyatakan berakhir, dan kecepatan rendah menjadi arah baru kebijakan transportasi perkotaan Inggris.
[SISTEM]
Comments (0)