Pukul 11:30 malam, Selasa pekan lalu, di depan Palazzo del Cinema—gedung ikonik tempat Festival Film Venesia berlangsung—suasana tidak seperti biasanya. Di tengah hembusan angin laut yang dingin, Delsina Desanctes, 19 tahun, berdiri di antara tenda, kantong tidur, payung, dan koper berserakan. Ia bukan satu-satunya. Puluhan penggemar lain memenuhi trotoar, bersiap menghabiskan malam panjang demi secercah kesempatan melihat idola mereka. "Saya berharap bisa melihat Sydney Sweeney, Kendall Jenner, dan Jonathan Bailey," ujar Delsina dengan mata berbinar, meski suaranya sedikit bergetar karena udara malam yang menusuk.
Ritual Mencekam di Tengah Kemewahan Festival
Festival Film Venesia memang dikenal sebagai ajang bergengsi yang dipenuhi deretan selebriti kelas dunia. Namun, di balik kilau lampu merah karpet, ada dunia lain yang tak kalah menarik: para superfan yang rela datang dari jauh, bahkan berkemah semalaman, demi satu momen berharga. Mereka datang tidak hanya dari Italia, tetapi juga dari Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat. Sebagian besar remaja dan dewasa muda, membawa bekal makanan, selimut, dan semangat yang tak tergoyahkan.
Fakta kunci: Setiap tahun, sekitar 200–300 penggemar berkumpul di luar venue utama festival, sebagian besar mulai berdatangan sejak pukul 9 malam untuk mengamankan posisi terbaik. Mereka tahu bahwa pagi hari adalah waktu kritis—ketika para selebriti berjalan dari hotel ke teater atau tiba dengan mobil mewah. "Jika kamu datang jam 7 pagi, kamu sudah terlambat," kata Marco, 22 tahun, penggemar asal Roma yang sudah tiga kali mengikuti ritual ini. "Posisi terbaik adalah di depan pagar pembatas, dekat pintu masuk. Itu hanya bisa didapatkan jika kamu bermalam di sini."
Delsina: Perjalanan dari Kanada untuk Mimpi di Venesia
Delsina sendiri terbang dari Toronto, Kanada, khusus untuk festival ini. Ia sudah merencanakan perjalanan selama enam bulan. "Saya bekerja paruh waktu di kafe, menabung setiap sen. Saya bilang pada orang tua, ini investasi untuk kebahagiaan saya," katanya sambil tertawa kecil. Ia mengenakan jaket tebal, syal, dan topi beanie—perlengkapan yang cukup untuk bertahan di suhu 10 derajat Celsius. Di sampingnya, sebuah tas ransel berisi power bank, air mineral, dan beberapa camilan.
"Saya tidak peduli harus menunggu berapa jam. Melihat Sydney Sweeney dari dekat—itu sudah lebih dari cukup. Dia inspirasiku," ujar Delsina dengan penuh semangat, matanya menyala meski lelah mulai terlihat. Ia mengaku sudah menyiapkan spanduk kecil bertuliskan "Sydney, I Love You!" yang akan diangkat saat idola lewat.
Suasana di sekitar Delsina terasa seperti perkemahan darurat. Beberapa penggemar duduk bersila, ada yang bermain gim di ponsel, dan beberapa lainnya berbincang tentang selebriti favorit. Di sudut lain, seorang penggemar laki-laki tidur dengan kepala di atas tas, menggunakan jaket sebagai selimut. Tak jauh dari situ, tenda kecil berwarna biru terlihat—milik dua sahabat asal Milan yang datang dengan skuter listrik.
Harapan dan Kekecewaan: Drama di Balik Pagar
Tidak semua malam berakhir dengan keberhasilan. Tahun lalu, misalnya, hujan deras mengguyur Venesia selama berjam-jam, memaksa banyak penggemar pulang dengan tangan hampa. "Kami basah kuyup, tapi tetap bertahan sampai pagi. Sayangnya, Taylor Swift batal datang karena jadwal berubah," kenang Elena, 20 tahun, yang saat itu menunggu selama delapan jam. Kekecewaan terasa pahit, tetapi semangat mereka tak pernah padam. Bagi para superfan, kegagalan hanya menjadi cerita untuk dikenang—bukan alasan untuk berhenti.
Namun, ada juga momen manis yang tak terlupakan. Tahun lalu, seorang penggemar berhasil mendapatkan foto selfie dengan Zendaya setelah menunggu dari jam 10 malam hingga jam 8 pagi. "Dia tersenyum dan melambai padaku. Aku menangis sepanjang hari," cerita Giulia, yang kini fotonya terpajang di kamarnya. Fakta kunci: Setiap tahun, setidaknya 10–15 penggemar berhasil berinteraksi langsung dengan selebriti—baik melalui foto, tanda tangan, atau sekadar lambaian tangan.
Keamanan dan Aturan: Antara Antusiasme dan Ketertiban
Pihak penyelenggara festival sudah terbiasa dengan fenomena ini. Setiap malam, petugas keamanan berpatroli di sekitar area, memastikan penggemar tidak melanggar batas pagar atau mengganggu lalu lintas. Beberapa penggemar diizinkan duduk di trotoar, tetapi dilarang mendirikan tenda besar atau membuat api. "Kami mengerti antusiasme mereka, tapi keselamatan tetap prioritas," kata Luca, salah satu petugas keamanan yang ditemui di lokasi. "Kami hanya meminta mereka tetap tenang dan tidak berisik. Sebagian besar kooperatif."
Menjelang pukul 1 pagi, Delsina mulai merapikan barang-barangnya. Ia memutuskan untuk tidur sebentar di kantong tidur yang sudah digelar. "Besok pagi, jam 6, aku bangun. Aku harus siap," katanya sambil menguap. Di sekelilingnya, penggemar lain mulai melakukan hal serupa. Suara dengkuran ringan terdengar dari beberapa sudut, bercampur dengan desir angin dan suara kapal feri di kejauhan.
Fenomena Superfan di Era Digital
Fenomena ini bukanlah hal baru. Sejak era Hollywood klasik, penggemar rela berjam-jam menunggu di luar studio atau hotel. Namun, di era media sosial, intensitasnya meningkat drastis. "Sekarang, setiap momen bisa viral. Mereka ingin menjadi bagian dari cerita yang bisa diunggah ke TikTok atau Instagram," analisis Dr. Marta Rossi, sosiolog budaya pop dari Universitas Ca' Foscari Venesia. "Ini bukan hanya tentang melihat selebriti, tetapi juga tentang validasi sosial—menunjukkan bahwa mereka adalah penggemar sejati."
Bagi Delsina, malam panjang ini adalah bagian dari petualangan yang sudah direncanakan. "Aku akan mengingat ini seumur hidup. Entah aku berhasil melihat Sydney atau tidak, cerita ini sudah menjadi milikku," katanya sambil memejamkan mata, sebelum akhirnya tertidur di antara tenda-tenda kecil yang berjejer di trotoar. Festival Film Venesia belum dimulai secara resmi keesokan harinya, tetapi bagi para superfan, drama dan harapan sudah berlangsung sejak malam sebelumnya.
Comments (0)